BERSAMA JNE, TIGA DEKADE MENITIP
HARAPAN, 68 JEJAK INTELEKTUAL MENEMBUS ZAMAN
Oleh: Thamrin Paelori
Menulis surat berarti menelanjangi
diri di depan hantu-hantu yang menunggu dengan rakus. Ciuman yang tertulis
tidak akan sampai ke tujuannya, karena hantu-hantu itu akan meminumnya di
tengah jalan. (Franz Kafka, Letters to Milena, 1922)
1.
Penangkal Jarak
Kekhawatiran Franz
Kafka, seorang sastrawan kenamaan yang berpengaruh di abad 20, mungkin ada benarnya. Bagi Kafka,
"hantu" tersebut adalah jarak, waktu, dan ketidakpastian. Ia merasa
bahwa rasa yang disampai akan hilang
oleh proses pengiriman surat sebelum benar-benar sampai ke si penerima. Akan tetapi, bagi saya sejak 1995, JNE adalah penangkal
kutukan “hantu” itu. JNE memastikan “ciuman”
berupa gagasan ilmiah, opini, atau
cerpen saya tidak akan pernah hilang di tengah jalan. Ia sampai
dengan selamat ke meja juri/panitia lomba atau redaksi koran.
Dahulu, sebelum WhatsApp, email, dan perangkat digital merajai
sistem informasi, dunia terasa jauh lebih luas dan sunyi. Sebagai seorang guru sekaligus penulis yang
menggantungkan harap pada pengumuman lomba karya tulis nasional, atau tulisan
dimuat di koran, penantian adalah ritual yang mendebarkan. Di masa itu, semuanya harus fisik. Kurir bukan sekadar profesi. Mereka adalah
pembawa kabar takdir.
Hari-hari saya tidak
hanya habis di depan papan tulis. Saya memiliki gairah besar dalam dunia tulis
menulis. Setiap tahun, puluhan kompetisi Karya Tulis Ilmiah (KTI) dari lembaga
bergengsi seperti LIPI, Kemdikbud, Kemenag,
hingga berbagai instansi lainnya saya ikuti dengan tekun. Di sela-sela
kesibukan mengajar, JNE menjadi mitra setia yang membawa ide-ide brilian saya
dari ruang kelas menuju panggung nasional. Jejak saya di JNE tidak hanya
sebatas naskah ilmiah. Kantor JNE juga menjadi saksi saat saya mengirimkan
naskah-naskah opini, artikel koran, hingga cerpen. Sebelum era surat
elektronik, naskah-naskah tersebut harus sampai dalam bentuk fisik ke meja
redaksi tepat waktu. JNE-lah yang memastikan suara dan gagasan saya bisa
menembus halaman-halaman media cetak lokal maupun nasional.
2. Resi Harapan
Bagi Kafka jarak
adalah tempat bersemayamnya hantu. Namun,
bagi saya waktu itu, kantor JNE adalah situs memori yang sakral segaligus
dermaga harapan. Ada debar yang tak
terlukiskan saat menyerahkan naskah itu di loket JNE. Setelah resi keluar,
optimisme saya membuncah. Resi itu saya menyimpannya di laci khusus. Resi itu
bukan sekadar bukti transaksi, melainkan
tiket harapan. Sebuah keyakinan bahwa
dokumen yang baru saja "terbang" bersama JNE akan kembali membawa
kabar kemenangan.
Di tengah deadline lomba yang ketat dan jarak
tempuh yang jauh ke Jakarta, JNE tidak pernah mengecewakan. Ketepatan waktunya
menjadi kunci. Naskah saya selalu sampai sebelum pintu pendaftaran ditutup.
Menariknya, profesionalitas yang tinggi ini tetap dibarengi dengan biaya yang
sangat terjangkau bagi kantong seorang guru seperti saya kala itu.
Ada satu kenangan yang
takkan pernah hilang dalam ingatan saya. Tepat, 16 Januati 2002, sebuah tragedi besar menimpa penerbangan
pesawat Garuda. Pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Sungai Bengawan
Solo. Sebuah momen yang membuktikan bahwa bagi JNE, amanah adalah segalanya. Beberapa hari kemudian setelah kejadian, kurir JNE mengetuk pintu rumah dan menyerahkan
sebuah amplop yang kondisinya sudah tak lagi sempurna. Amplop itu berlumur
lumpur. Kusam sisa evakuasi. Saya tertegun haru. JNE bukan hanya mengantar
barang. JNE menyelamatkan amanah dari musibah. Lumpur itu saksi bisu. Pesan
harus sampai ke tangan pemiliknya.
Masih segar dalam ingatan saya, aroma kertas
lembap itu. Tekstur lumpur keringnya kasar di jemari. Logo JNE di sudut tetap
jadi penanda harapan. Dan, itu kabar gembira. Ternyata, saya menang lagi. Lumpur
yang menempel di amplop itu bukan sekadar kotoran, melainkan simbol integritas.
JNE mengajarkan saya bahwa sebuah pesan harus sampai, apa pun rintangannya.
Itulah alasan mengapa JNE tetap memiliki tempat khusus di hati saya.
3. Nostalgia di Era Digital
Zaman memang
telah bergeser ke arah digital. Usia JNE sudah 35 tahun—usia yang sangat
matang. Pergeseran ini tidak hanya mengubah cara saya menulis, tetapi juga cara
saya menyebarkan ilmu. Setelah beberapa tahun mengumpulkan kemenangan demi
kemenangan nasional, saya akhirnya melangkah lebih jauh dengan menulis beberapa
buku. Salah satu karya monumental saya adalah buku “Dahsyatnya KTI Guru (Rahasia
55 kali Menag Lomba KTI Guru Nasional)”.
Sungguh sebuah
berkah yang luar baisa, buku tersebut meledak di pasaran dan terjual lebih dari
10.000 eksemplar. Di sinilah takdir saya kembali bertautan erat dengan JNE.
Sekitar 40% dari total penjualan buku tersebut dilakukan secara online.
Itu berarti, ada ribuan eksemplar buku saya yang pengirimannya dari Makassar
ke tangan para guru di pelosok negeri kembali dipercayakan kepada JNE.
JNE yang dahulu
mengantar mimpi-mimpi saya ke meja juri, kini berganti peran menjadi roda yang
mengantar ilmu pengetahuan saya ke tangan pembaca. Hubungan ini telah
berevolusi dari sekadar pelanggan menjadi kemitraan yang menghidupkan literasi.
Kesetiaan saya pada JNE bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan penghormatan
pada sebuah sejarah.
Meskipun kini
intensitas saya mengirim naskah fisik tak lagi sesering dahulu, JNE tetap
menjadi pilihan pertama dan utama di setiap kesempatan. Selain mengirim buku
yang dipesan para guru, aktivitas
sederhana seperti belanja online hari ini, jemari saya secara refleks
akan mencari logo JNE di kolom pilihan pengiriman. Ada rasa tenang yang muncul
saat mengetahui bahwa paket tersebut berada di tangan kurir berbaju merah-biru.
Sebuah kepastian bahwa barang tersebut akan sampai dengan selamat, sebagaimana
ribuan buku dan naskah-naskah perjuangan saya sampai ke tujuannya puluhan tahun
silam.
4.
Kurir, Doa, dan Kemenangan
Perjalanan saya bersama JNE adalah tentang debar. Tentang
rasa syukur. Dari selembar resi di dalam laci hingga menjadi bukti nyata
prestasi. Bagi saya JNE adalah kurir doa yang menjaga amanah intelektual saya
hingga ke tujuan. Laci itu kini menjadi
saksi bisu. Dari lembaran-lembaran kertas yang diantar kurir itulah, lahir 68
kemenangan nasional. Bangga dan bersyukur. JNE telah mengantar mimpi saya meniti
harapan melintasi pulau, menembus batas jarak antara daerah (Makassar) dan ibu kota. Melalui JNE, gagasan saya
melanglang ke ibu kota negara. Dengan
semua itu, saya masuk Istana Negara. Bertemu dengan semua presiden sejak era
Soeharto.
Koleksi piala dan tumpukan piagam yang saya miliki
adalah monumen nyata dari perjalanan panjang sejak tahun 1995. Sebuah perjalanan yang dimulai dari loket
JNE. Ternyata jarak bukanlah pemisah, melainkan ruang untuk pembuktian
kesetiaan. JNE adalah saksi bahwa kesetiaan pada proses tidak pernah
mengkhianati hasil.
JNE yang kini menginjak usia 35 tahun dengan tema "Bergerak Bersama, Beragam Cerita", saya melihat cerminan perjalanan hidup saya sendiri. Sebagai seorang guru sekaligus penulis, JNE telah menjadi bagian dari sejarah besar hidup saya. Sejarah karir saya yang kian menanjak dan populer. Terima kasih JNE, telah menjadi saksi bisu bagi tiga dekade menitip harapan, menjaga 68 jejak intelektual saya agar terus abadi menembus zaman. Kini terus bergerak menuju cerita-cerita baru. Di tangan kurirmu, debar itu tetap sama, dan harapan yang pasti. -Mei26-
#JNE #ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita
