Selasa, 02 Juni 2026

 

BERSAMA JNE, TIGA DEKADE MENITIP HARAPAN, 68 JEJAK INTELEKTUAL MENEMBUS ZAMAN

 

Oleh: Thamrin Paelori

 

 

Menulis surat berarti menelanjangi diri di depan hantu-hantu yang menunggu dengan rakus. Ciuman yang tertulis tidak akan sampai ke tujuannya, karena hantu-hantu itu akan meminumnya di tengah jalan. (Franz Kafka, Letters to Milena, 1922)

1. Penangkal Jarak

Kekhawatiran Franz Kafka, seorang sastrawan kenamaan yang berpengaruh di abad 20,  mungkin ada benarnya. Bagi Kafka, "hantu" tersebut adalah jarak, waktu, dan ketidakpastian. Ia merasa bahwa rasa yang disampai akan  hilang oleh proses pengiriman surat sebelum benar-benar sampai ke si penerima.  Akan tetapi,  bagi saya sejak 1995, JNE adalah penangkal kutukan “hantu” itu.  JNE memastikan “ciuman” berupa gagasan ilmiah,  opini, atau cerpen saya tidak akan pernah hilang di tengah jalan.  Ia  sampai dengan selamat ke meja juri/panitia lomba atau redaksi koran.

Dahulu, sebelum  WhatsApp, email, dan perangkat digital merajai sistem informasi, dunia terasa jauh lebih luas dan sunyi.  Sebagai seorang guru sekaligus penulis yang menggantungkan harap pada pengumuman lomba karya tulis nasional, atau tulisan dimuat di koran, penantian adalah ritual yang mendebarkan.  Di masa itu, semuanya harus fisik.  Kurir bukan sekadar profesi. Mereka adalah pembawa kabar takdir.

Hari-hari saya tidak hanya habis di depan papan tulis. Saya memiliki gairah besar dalam dunia tulis menulis. Setiap tahun, puluhan kompetisi Karya Tulis Ilmiah (KTI) dari lembaga bergengsi seperti LIPI, Kemdikbud, Kemenag,  hingga berbagai instansi lainnya saya ikuti dengan tekun. Di sela-sela kesibukan mengajar, JNE menjadi mitra setia yang membawa ide-ide brilian saya dari ruang kelas menuju panggung nasional. Jejak saya di JNE tidak hanya sebatas naskah ilmiah. Kantor JNE juga menjadi saksi saat saya mengirimkan naskah-naskah opini, artikel koran, hingga cerpen. Sebelum era surat elektronik, naskah-naskah tersebut harus sampai dalam bentuk fisik ke meja redaksi tepat waktu. JNE-lah yang memastikan suara dan gagasan saya bisa menembus halaman-halaman media cetak lokal maupun nasional.

2. Resi Harapan 

Bagi Kafka jarak adalah tempat bersemayamnya hantu.  Namun, bagi saya waktu itu, kantor JNE adalah situs memori yang sakral segaligus dermaga harapan.  Ada debar yang tak terlukiskan saat menyerahkan naskah itu di loket JNE. Setelah resi keluar, optimisme saya membuncah. Resi itu saya menyimpannya di laci khusus. Resi itu bukan sekadar bukti transaksi,  melainkan tiket harapan.  Sebuah keyakinan bahwa dokumen yang baru saja "terbang" bersama JNE akan kembali membawa kabar kemenangan.

 Di tengah deadline lomba yang ketat dan jarak tempuh yang jauh ke Jakarta, JNE tidak pernah mengecewakan. Ketepatan waktunya menjadi kunci. Naskah saya selalu sampai sebelum pintu pendaftaran ditutup. Menariknya, profesionalitas yang tinggi ini tetap dibarengi dengan biaya yang sangat terjangkau bagi kantong seorang guru seperti saya kala itu.  

Ada satu kenangan yang takkan pernah hilang dalam ingatan saya. Tepat, 16 Januati  2002,  sebuah tragedi besar menimpa penerbangan pesawat Garuda. Pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Sungai Bengawan Solo. Sebuah momen yang membuktikan bahwa bagi JNE, amanah adalah segalanya.  Beberapa hari kemudian setelah kejadian,  kurir JNE mengetuk pintu rumah dan menyerahkan sebuah amplop yang kondisinya sudah tak lagi sempurna. Amplop itu berlumur lumpur. Kusam sisa evakuasi. Saya tertegun haru. JNE bukan hanya mengantar barang. JNE menyelamatkan amanah dari musibah. Lumpur itu saksi bisu. Pesan harus sampai ke tangan pemiliknya.

 Masih segar dalam ingatan saya, aroma kertas lembap itu. Tekstur lumpur keringnya kasar di jemari. Logo JNE di sudut tetap jadi penanda harapan. Dan, itu kabar gembira. Ternyata, saya menang lagi. Lumpur yang menempel di amplop itu bukan sekadar kotoran, melainkan simbol integritas. JNE mengajarkan saya bahwa sebuah pesan harus sampai, apa pun rintangannya. Itulah alasan mengapa JNE tetap memiliki tempat khusus di hati saya. 

3. Nostalgia di Era Digital

 Zaman memang telah bergeser ke arah digital. Usia JNE sudah 35 tahun—usia yang sangat matang. Pergeseran ini tidak hanya mengubah cara saya menulis, tetapi juga cara saya menyebarkan ilmu. Setelah beberapa tahun mengumpulkan kemenangan demi kemenangan nasional, saya akhirnya melangkah lebih jauh dengan menulis beberapa buku. Salah satu karya monumental saya adalah buku “Dahsyatnya KTI Guru (Rahasia 55 kali Menag Lomba KTI Guru Nasional)”.

Sungguh sebuah berkah yang luar baisa, buku tersebut meledak di pasaran dan terjual lebih dari 10.000 eksemplar. Di sinilah takdir saya kembali bertautan erat dengan JNE. Sekitar 40% dari total penjualan buku tersebut dilakukan secara online. Itu berarti, ada ribuan eksemplar buku saya yang pengirimannya dari Makassar ke tangan para guru di pelosok negeri kembali dipercayakan kepada JNE.

JNE yang dahulu mengantar mimpi-mimpi saya ke meja juri, kini berganti peran menjadi roda yang mengantar ilmu pengetahuan saya ke tangan pembaca. Hubungan ini telah berevolusi dari sekadar pelanggan menjadi kemitraan yang menghidupkan literasi. Kesetiaan saya pada JNE bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan penghormatan pada sebuah sejarah.  

Meskipun kini intensitas saya mengirim naskah fisik tak lagi sesering dahulu, JNE tetap menjadi pilihan pertama dan utama di setiap kesempatan. Selain mengirim buku yang dipesan para guru,  aktivitas sederhana seperti belanja online hari ini, jemari saya secara refleks akan mencari logo JNE di kolom pilihan pengiriman. Ada rasa tenang yang muncul saat mengetahui bahwa paket tersebut berada di tangan kurir berbaju merah-biru. Sebuah kepastian bahwa barang tersebut akan sampai dengan selamat, sebagaimana ribuan buku dan naskah-naskah perjuangan saya sampai ke tujuannya puluhan tahun silam.

 

4.  Kurir, Doa, dan Kemenangan  

Perjalanan saya bersama JNE adalah tentang debar. Tentang rasa syukur. Dari selembar resi di dalam laci hingga menjadi bukti nyata prestasi. Bagi saya JNE adalah kurir doa yang menjaga amanah intelektual saya hingga ke tujuan.  Laci itu kini menjadi saksi bisu. Dari lembaran-lembaran kertas yang diantar kurir itulah, lahir 68 kemenangan nasional. Bangga dan bersyukur. JNE telah mengantar mimpi saya meniti harapan melintasi pulau, menembus batas jarak antara daerah (Makassar)  dan ibu kota. Melalui JNE, gagasan saya melanglang ke ibu kota negara.  Dengan semua itu, saya masuk Istana Negara. Bertemu dengan semua presiden sejak era Soeharto.

Koleksi piala dan tumpukan piagam yang saya miliki adalah monumen nyata dari perjalanan panjang sejak tahun 1995.  Sebuah perjalanan yang dimulai dari loket JNE. Ternyata jarak bukanlah pemisah, melainkan ruang untuk pembuktian kesetiaan. JNE adalah saksi bahwa kesetiaan pada proses tidak pernah mengkhianati hasil.

JNE yang kini menginjak usia 35 tahun dengan tema "Bergerak Bersama, Beragam Cerita", saya melihat cerminan perjalanan hidup saya sendiri. Sebagai seorang guru sekaligus penulis,  JNE telah menjadi bagian dari sejarah besar hidup saya. Sejarah karir saya yang kian menanjak dan populer.  Terima kasih JNE, telah menjadi saksi bisu bagi tiga dekade menitip harapan, menjaga 68 jejak intelektual saya agar terus abadi menembus zaman. Kini terus bergerak menuju cerita-cerita baru. Di tangan kurirmu, debar itu tetap sama,  dan harapan yang pasti. -Mei26-

#JNE #ConnectingHappiness 

#JNE35BergerakBersama  

#JNEContentCompetition2026 

#JNEBeragamCerita 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar