Estetika
Subversi dan Masa Depan Kritik Sastra di Tengah Demokrasi Metrik
/1/
Epilog
Sang Kritikus dan Ilusi Kebebasan Pembaca
H.B. Jassin telah lama mangkat. Kursi
'Paus Sastra Indonesia' kini tak lagi diduduki oleh akademisi bergelar
mentereng. Era yang mendudukkan kritikus bertindak sebagai dewa penjaga gerbang
estetika sastra mulai rubuh. Posisi kritikus satu persatu direbut oleh deretan
kode algoritma di server ByteDance dan mesin kurasi Wattpad. Hak prerogatif
kurasi kini digilas habis oleh tirani metrik, yakni jumlah likes, retweets,
tayangan video 15 detik, dan durasi scroll.
Pada paruh kedua abad ke-20, Roland
Barthes, seorang begawan semiotika dan kritikus sastra asal Prancis, merilis
esai legendaris The Death of the Author.[1] Ia ingin membunuh otoritas
pengarang agar pembaca merdeka menjadi penguasa mutlak atas tafsir teks. Namun
kini, kita menyaksikan ironi sejarah yang brutal. Pengarang kiwari memang telah
mati, tetapi bukan sebagai martir yang membebaskan makna bagi pembaca,
melainkan sebagai tumbal kapitalisme platform yang mereduksinya menjadi sekadar
kuli algoritma. Histeria massa di media sosial dan tirani Engagement Rate
pada akhirnya meresmikan epilog yang lebih kelam dari nubuat Barthes: 'Matinya
Sang Kritikus'.
Di era 'demokrasi metrik' saat ini,
tugas utama sebuah kritik sastra bukan lagi sekadar membedah metafora dan rima
dalam kesunyian kamar. Kritik sastra harus mampu membaca arsitektur platform,
menavigasi sosiologi digital, dan memetakan bagaimana sebuah teks bertahan
hidup di tengah burnout massal pembacanya. Menolak fenomena Alternate
Universe atau fiksi Wattpad sebagai bagian dari sastra mutakhir, bukanlah
upaya menjaga standar mutu, melainkan sebentuk kebutaan terhadap perpindahan
kekuasaan material, yakni dari tangan kritikus, ke tangan algoritma massa.
Esai ini ditulis tidak untuk
meratapi kematian otoritas kritikus. Sebaliknya, tulisan ini merupakan sebuah
otopsi klinis terhadap realitas baru. Kritikus sastra mutakhir yang terjebak
nostalgia di balik teori strukturalisme 80-an sama halnya dengan menjadi fosil
di tengah peradaban data.
/2/
Arsitektur Platform dan Pembajakan
"Modal Budaya"
Memahami
anatomi pertahanan hidup sebuah teks dewasa ini, harus terlebih dahulu melacak
ke mana arena legitimasi itu berpindah. Selama puluhan tahun, 'modal budaya' (cultural
capital)—meminjam pisau analisis sosiolog Pierre Bourdieu—dimonopoli secara
mutlak oleh institusi formal seperti dewan kesenian, redaktur lembar budaya
koran akhir pekan, dan mimbar akademis kampus.[2] Jika sebuah naskah lolos
kurasi dari meja mereka, ia sah dikanonisasi sebagai sastra berbobot. Namun, kini arsitektur platform digital telah
merubuhkan gerbang tersebut dan membajak arena produksi kultural secara massal.
Sebagaimana dibedah oleh Ted Striphas, bahwa
kita sedang menyaksikan sebuah pergeseran sosiologis radikal di mana hak
prerogatif untuk mengurasi, mengklasifikasi, dan memberikan hierarki pada
artefak kebudayaan kini diserahkan sepenuhnya oleh manusia kepada deretan kode
algoritma. Modal budaya yang dulu sakral itu kini direbut secara paksa oleh
mesin kurasi dan massa anonim.[3]
Fakta empiris dari transisi
kekuasaan ini terpampang telanjang pada lanskap industri perbukuan mutakhir.
Teks-teks populer seperti Dear Nathan karya Erica atau Mariposa karya Luluk FH, tidak lagi membutuhkan validasi dari kritikus
untuk diakui keberadaannya. Mereka dikanonisasi
oleh ratusan juta klik di arsitektur Wattpad sehingga mencapai puncak
kejayaannya. Lebih jauh lagi, fenomena novelisasi fiksi penggemar Alternate
Universe (AU) di platform X (Twitter) seperti Dikta & Hukum karya
Ara (Dhia'an Farah) menegaskan runtuhnya sang penjaga gerbang. Lahir dari utas
percakapan fiktif dan meminjam memori kolektif pembaca terhadap wajah idola
K-Pop. Teks ini meraup histeria massal hingga akhirnya diakuisisi oleh penerbit
mayor dan industri sinema. Di tengah
siklus komersial yang masif ini, industri buku secara implisit mempertanyakan
posisi sang kritikus. Di mana mereka? Kritikus absen, atau lebih buruk lagi,
datang terlambat hanya untuk mencibirnya sebagai "sastra picisan".
Secara ekonomi-politik, industri
penerbitan tidak lagi membutuhkan esai validasi dari seorang akademisi sastra
untuk mencetak buku. Angka retweet, jumlah tayangan, dan durasi layar (screen
time) kini jauh lebih berwibawa daripada esai validasi dari seorang akademisi
sastra. Sang kritikus tidak lagi memiliki kuasa untuk menentukan naskah mana
yang layak hidup atau mati, karena kanonisasi telah diambil alih oleh tirani
metrik. Massa netizen yang menangis dan membagikan tangkapan layar pengalaman
emosionalnya di TikTok (BookTok) kini menjelma menjadi Crowdsourced
Criticism (Kritik Sastra Bersumber-Banyak). Emosi performatif netizen ini
memiliki daya legitimasi dan kanonisasi yang jauh lebih brutal, instan, dan
nyata dibandingkan ulasan strukturalis di jurnal akademik. Di hadapan dasbor
analitik, otoritas kritikus konvensional perlahan memudar, menyisakan sebuah
kenyataan pahit. Kelayakan literer sebuah karya di era digital tidak ditentukan
oleh kedalaman maknanya, melainkan oleh kemampuannya memanipulasi algoritma.
/3/
Medium dan Anatomi Sastra
Kapitalisme Digital
Kegagalan terbesar kritik sastra
konservatif kini adalah kebiasaannya membaca teks digital dalam ruang hampa. Seolah-olah
anatomi fisik novel di layar sentuh sama dengan buku cetak era 80-an. Para
kritikus kerap meratapi kemiskinan bahasa, hilangnya narasi deskriptif yang
liris, serta menjamurnya paragraf-paragraf yang terlampau pendek dalam
novel-novel di platform seperti Wattpad, Fizzo, atau Karyakarsa. Cara pandang
elitis ini sangatlah naif.
Teks
digital sesungguhnya tidak sedang mengalami kemunduran intelektual. Ia sedang
melakukan adaptasi evolusioner. Mengapa paragrafnya memendek? Karena ia tidak
dibaca di ruang studi yang tenang, melainkan dikonsumsi melalui layar smartphone
berukuran enam inci oleh pembaca komuter yang berdesakan di gerbong KRL.
Mengapa narasinya penuh dengan dialog pingpong dan nyaris selalu diakhiri
dengan gantungan cerita yang memompa adrenalin di setiap bab? Teks tersebut tunduk secara mutlak pada hukum
monetisasi platform. Pembaca harus dipaksa secara psikologis untuk membayar
koin demi membuka bab berikutnya, tepat sebelum ibu jari mereka menggulir ke
aplikasi lain. Algoritma kapitalisme platform inilah yang kini memberi pigmen
pekat pada estetika sastra Indonesia mutakhir, bukan lagi semata-mata kelihaian
penulis dalam merangkai metafora. Di sinilah ditemukan bentuk paling tragis
dari 'Matinya Pengarang' di era digital.
Jika Barthes membunuh pengarang
demi membebaskan makna, maka kapitalisme platform membunuh pengarang demi
memonetisasi perhatian. Status mulia 'sang pencipta' kini telah direduksi secara brutal menjadi
sekadar 'pekerja konten' (content creator). Penulis tidak lagi menulis
berdasarkan kegelisahan eksistensial yang otonom, melainkan didikte oleh apa
yang akan dibangun oleh algoritma. Mereka menjadi budak dari deretan kode yang
menuntut pasokan bab secara harian demi menjaga visibilitas di beranda. Dalam
ekosistem ini, kreativitas bukan lagi sebuah penjelajahan estetik, melainkan
sebuah aksi buruh pabrik kata-kata yang harus tunduk pada selera massa dan
mesin. Di titik inilah nubuat sosiolog komunikasi Marshall McLuhan menemukan
pembuktiannya yang paling brutal: "Medium is the message"
(Medium adalah pesan itu sendiri).[4] Kritikus mutakhir harus
sadar bahwa arsitektur Wattpad maupun X (Twitter) bukanlah sekadar wadah kosong
atau etalase netral. Interface aplikasi yang memaksa pengguna untuk
terus menggulir layar, serta sistem monetisasi per-bab tersebut, adalah 'pesan'
sesungguhnya yang secara aktif merombak estetika paragraf dan struktur narasi
kita. Jika seorang kritikus gagal membaca arsitektur material ini, maka
analisis tekstualnya hanyalah omong kosong usang yang tidak berpijak pada
realitas zaman.
/4/
Analgesik di Tengah "Masyarakat
Lelah"
Kritikus konservatif mungkin
mencibir fiksi Alternate Universe (AU) di platform X sebagai
representasi kemunduran literasi dari generasi yang malas membangun karakter.
Namun, sebuah otopsi sosiologis yang jujur akan menunjukkan realitas yang
sebaliknya. AU dan fiksi platform adalah bentuk mutasi tekstual yang lahir
langsung dari rahim attention economy.
Dalam arsitektur digital di mana pengguna hanya memiliki jeda atensi tiga detik
sebelum menggulir layar, sastra tidak lagi memiliki kemewahan untuk menyajikan
deskripsi lanskap berhalaman-halaman. Dengan membajak wajah idola K-Pop populer
dan melemparnya ke dalam realitas banal keseharian—misalnya sebagai budak
korporat atau mahasiswa tingkat akhir yang depresi—penulis AU sesungguhnya
sedang berstrategi menciptakan jalan pintas emosional. Teks ini membuktikan
bahwa agar bisa bertahan hidup di tengah tirani metrik, sebuah narasi harus
meminjam ingatan kolektif pembacanya secara taktis. Oleh karena itu,
popularitas fiksi instan dan novel berparagraf pendek tidak boleh sekadar
dihakimi secara elitis sebagai kemalasan membaca.
Filsuf Byung-Chul Han pernah
meramalkan bahwa teknologi (medium) yang digunakan untuk menyampaikan pesan
lebih memengaruhi masyarakat daripada isi pesan itu sendiri. Kini terbukti bahwa
medium adalah pesan. Kritikus harus
sadar bahwa arsitektur Wattpad dan Twitter X bukanlah sekadar wadah kosong.
Interface aplikasi adalah paksaan untuk terus menggulir (scrolling), dan sistem
monetisasi per-bab adalah 'pesan' sesungguhnya yang secara aktif merombak
estetika paragraf dan struktur narasi sastra mutakhir kita. Meminjam kacamata
Han mengenai 'Masyarakat Lelah' (Müdigkeitsgesellschaft), kita bisa
melihat bahwa teks-teks kiwari ini beroperasi secara fungsional sebagai semacam
analgesik (pereda nyeri).[5] Manusia modern yang
terus-menerus mengeksploitasi dirinya sendiri secara sukarela demi
produktivitas kini perlahan hancur oleh kelelahan mental (burnout).
Netizen yang digilas oleh eksploitasi kerja jamak dan berhala hustle culture
tidak lagi sanggup mengunyah metafora rumit; mereka menuntut karya sastra yang
mampu memberikan dopamine hit dan eskapisme secara cepat.
Di sinilah letak kegagalan
sekaligus peluang bagi kritik sastra. Alih-alih meratapi fenomena ini sebagai
"pendangkalan sastra", kritikus yang bijak akan membacanya secara
sosiologis yang lebih dalam. Mengapa teks picisan ini memicu histeria massal?
Kecemasan kolektif apa yang sedang disembuhkan oleh narasi-narasi instan ini?
Di balik struktur kalimatnya yang mungkin berada di bawah standar kanon masa
lalu, kerap kali tersimpan denyut penderitaan manusia modern yang nyata.
Kritikus harus hadir bukan untuk mencela, melainkan membaca teks-teks tersebut
sebagai dokumen otentik mengenai kelelahan psikologis massal dari sebuah
generasi.
5. Metodologi Estetika Subversi: Membongkar Peran Baru
Kritikus Sastra
Jika arsitektur digital telah
merombak anatomi teks dan memenjarakan otonomi pengarang, lantas di mana sang
kritikus harus memosisikan diri? Kritikus sastra tidak perlu membuang
idealismenya, melainkan harus mereposisi medan tempurnya. Kritikus tkda bisa mengecilkan arti platform digital, dan berlindung di balik
benteng kanon sastra cetak hanyalah sebentuk bunuh diri intelektual. Kritikus sastra kini harus segera menanggalkan
jubah kebesaran 'Hakim Estetika' yang elitis, dan bermetamorfosis menjadi
arkeolog forensik kebudayaan. Kritik sastra mutakhir tidak lagi beroperasi
semata-mata untuk mencari kecacatan tata bahasa atau mengeluhkan plot yang terlalu
bergegas. Tugasnya kini jauh lebih radikal, yakni membedah bagaimana sebuah
teks bernegosiasi, bertahan hidup, dan melancarkan perlawanan dari dalam rahim
algoritma.
Prasyarat mutlak dari pergeseran
peran ini adalah penguasaan 'literasi platform'. Seorang kritikus tidak akan
pernah mampu membedah fiksi Alternate Universe (AU) atau ekosistem
Wattpad jika ia buta terhadap logika Engagement Rate, arsitektur For
You Page (FYP), dan tirani monetisasi per-bab. Kritikus harus berani turun
ke gelanggang berlumpur ini untuk memetakan anatomi pertarungan materialnya.
Harus mampu menjawab berbagai pertnyaa: bagaimana
penulis memanipulasi cliffhanger, bagaimana ritme paragraf disinkronkan
dengan gerak refleks ibu jari di layar sentuh, dan bagaimana emosi pembaca
dieksploitasi oleh sistem. Menolak membaca arsitektur material ini bukanlah
sikap menjaga standar mutu, melainkan sebentuk kepengecutan akademis.
Di atas landasan analitis itulah
kritikus mempraktikkan metodologi utamanya, yakni 'Estetika Subversi'. Di tengah lautan narasi
instan yang diproduksi secara banal ala pabrik kata-kata, kritikus bertugas
sebagai pemburu anomali. Estetika subversi beroperasi ibarat Kuda Troya. Hal
ini terjadi ketika seorang penulis dengan cerdik berpura-pura tunduk pada
selera pasar—meminjam visual idola K-Pop, menggunakan tropus romansa remaja,
atau merangkai dialog pingpong—namun secara gerilya menyelundupkan kritik
kelas, wacana kesehatan mental, atau perenungan eksistensial yang tajam ke
dalamnya. Kritikus hadir untuk mendekode kecerdasan penyelundupan makna ini,
dan membuktikan kepada dunia bahwa kedalaman literer masih bisa bernapas
meskipun lehernya dicekik oleh kapitalisme platform.
Pada akhirnya, di tengah pusaran
histeria massa dan antarmuka yang memuja viralitas, peran paling politis dari
seorang kritikus adalah menjadi 'Jangkar Makna'. Arsitektur platform digital
sengaja dirancang untuk memproduksi amnesia—menciptakan ilusi kebaruan yang
tiada henti setiap kali pengguna menggulir layar. Di sinilah kritikus harus
melawan laju kelupaan tersebut. Ia bertugas mengikat teks-teks digital yang
tampak remeh itu pada realitas sosiologis yang lebih besar, mengaitkannya
dengan epidemi burnout, keterasingan masyarakat modern, atau
keputusasaan generasi kelas pekerja. Sang kritikus mungkin telah kehilangan
gerbang kekuasaannya, tetapi kemampuannya untuk memberikan konteks di tengah
samudra data yang amnesik adalah satu-satunya pelampung yang tidak bisa
direplikasi oleh mesin. .
Pada akhirnya, sikap pesimisme yang
melumpuhkan harus segera disingkirkan dari mimbar kritik sastra mutakhir. Di
titik inilah kita perlu menyuntikkan rasionalitas optimistik dari pujangga dan
visioner sastra, Ursula K. Le Guin. Menghadapi gurita industri buku dan
komersialisasi teks, ia pernah melontarkan kredo perlawanan yang sangat relevan
dalam pidato penerimaan National Book Foundation Medal-nya: "Kita
hidup dalam kapitalisme. Kekuasaannya tampak mutlak dan tak terhindarkan.
Namun, begitu pula hak ilahi raja-raja di masa lalu. Kekuasaan manusia mana pun
dapat dilawan dan diubah oleh manusia. Perlawanan dan perubahan sering kali
bermula dari seni, dan sangat sering dari seni kita, seni kata-kata." [6]
Optimisme radikal Le Guin, kutipan
ini merupakan antitesis terhadap
pesimisme absolut kritikus konservatif, bahwa arsitektur kapitalisme
komputasional, betapapun solidnya, tetap rentan terhadap daya subversi bahasa
dan kesusastraan. Kutipan ini merupakan amunisi
rasional yang membebaskan kita dari ilusi bahwa algoritma adalah tuhan baru
yang tak bisa dikalahkan. Tirani kapitalisme platform dan rezim Engagement
Rate mungkin terlihat mahakuasa dewasa ini, mengurung penulis dan pembaca
dalam penjara metrik. Namun, ia bukanlah akhir dari sejarah sastra. Dengan
merawat kecerdikan 'Estetika Subversi' dan menolak amnesia digital, penulis dan
kritikus kiwari sedang membuktikan satu hal mutlak, bahwa kehendak manusia
untuk mencari kedalaman makna akan selalu menemukan celah untuk meretas,
bertahan, dan pada akhirnya, menang atas mesin.
/6/
Celah Antara Mesin dan Penderitaan
Esai ini dibuka dengan mengumumkan
runtuhnya kursi kebesaran sang 'Paus Sastra', H.B. Jassin, di tengah serbuan
demokrasi metrik. Otoritas absolut sang kritikus untuk menjaga gerbang kanon
memang telah diluluhlantakkan oleh kapitalisme platform. Namun, jika kita
menyelami kembali spirit Jassin, ada satu kredo fundamental yang akan selalu
selamat dari gempuran zaman, bahwa
esensi kritik bukanlah mencari-cari kesalahan teknis atau menghakimi tata
bahasa, melainkan upaya meraba kebenaran batiniah manusia di dalam sebuah teks.[7]
Di era ketika penulis direduksi
menjadi pekerja konten dan pembaca digiring oleh rekayasa logaritma, kebenaran
batiniah itu sedang mengalami krisis. Meminjam pisau bedah sastrawan Budi
Darma, sastra yang bermutu selalu menjelajah ke dalam lorong-lorong gelap
manusia.[8] Kini, lorong gelap itu
tidak lagi berbentuk kemiskinan material atau perang fisik, melainkan bernama burnout
massal, depresi algoritmis, serta alienasi digital di balik layar enam inci. Oleh karena itu, sang kritikus
mutakhir—setelah dipersenjatai dengan pemahaman arsitektur platform dan
Estetika Subversi—harus turun ke lorong-lorong digital tersebut membawa obor
analitisnya. Tugas pamungkas kritikus hari ini bukanlah meratapi kematian
sastra, melainkan menyelamatkan sisa-sisa kemanusiaan di dalam ekosistem yang
dirancang untuk memanipulasi kita.
Ketika mesin kurasi sibuk
mengeksploitasi histeria massa demi koin dan Engagement Rate, kita harus
menggenggam erat nubuat Italo Calvino: Selalu ada hal-hal mendasar yang hanya
bisa diberikan oleh sastra, dan tidak akan pernah bisa dilahirkan oleh mesin. [9]Barisan kode kecerdasan
buatan dan metrik platform mungkin bisa merekayasa viralitas, tetapi mereka
tidak akan pernah bisa mereplikasi empati, kelelahan, dan penderitaan. Dan di
celah sempit antara tumpukan data yang dingin dan penderitaan manusia yang otentik
itulah, sang kritikus harus kembali berdiri tegak.
Catatan
Kaki:
Barthes,
Roland. 1977. Image-Music-Text. London: Fontana Press.
Bauman,
Zygmunt. 2000. Liquid Modernity. Cambridge: Polity Press.
Bourdieu,
Pierre. 1993. The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature.
Cambridge: Polity Press.
Calvino,
Italo. 1988. Six Memos for the Next Millennium. Cambridge: Harvard
University Press.
Darma,
Budi. 1995. Harmonium. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Farah,
Dhia'an. 2021. Dikta & Hukum. Jakarta: Asoka Aksara.
Han,
Byung-Chul. 2015. The Burnout Society. Stanford: Stanford University
Press.
Jassin,
H.B. 1967. Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei. Jakarta:
Gunung Agung.
Le
Guin, Ursula K. 2016. Words Are My Matter: Writings About Life and Books,
2000–2016. Easthampton: Small Beer Press.
McLuhan,
Marshall. 1964. Understanding Media: The Extensions of Man. New York:
McGraw-Hill.
Striphas,
Ted. 2015. "Algorithmic Culture". European Journal of Cultural
Studies, 18(4-5), 395-412.
[1] Roland
Barthes, "The Death of the Author," dalam Image-Music-Text,
terj. Stephen Heath (London: Fontana Press, 1977), 148. Dalam esai manifesto
ini, Barthes mendeklarasikan bahwa "kelahiran pembaca harus dibayar dengan
kematian pengarang." Ia menolak gagasan bahwa teks adalah wadah yang
menyimpan pesan tunggal dan sakral dari penciptanya, melainkan sebuah ruang
multidimensi di mana berbagai tafsir bebas berbenturan
[2] Pierre
Bourdieu, The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature,
ed. Randal Johnson (Cambridge: Polity Press, 1993), 37-40. Bourdieu menegaskan
bahwa legitimasi karya sastra tidak lahir alamiah, melainkan dikonstruksi dan
dimonopoli oleh institusi formal (kritikus, akademisi, penerbit) selaku penjaga
gerbang (gatekeeper) modal budaya.
[3]Ted
Striphas, "Algorithmic Culture," European Journal of Cultural
Studies 18, no. 4-5 (2015): 395-412. Striphas merumuskan konsep algorithmic
culture untuk mengkaji bagaimana kerja kognitif dan kuratorial yang secara
historis dikendalikan oleh institusi manusia kini didelegasikan secara masif
kepada komputasi mesin.
[4] Marshall
McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man (New York:
McGraw-Hill, 1964), 7. Menurut McLuhan, dampak paling signifikan dari sebuah
teknologi selalu terletak pada struktur mediumnya, yang secara diam-diam
mendikte kebiasaan penggunanya tanpa disadari
[5] Byung-Chul
Han, The Burnout Society (Stanford: Stanford University Press, 2015),
8-9. Menurut Han, pergeseran dari paradigma kedisiplinan menjadi paradigma
prestasi telah menciptakan epidemi kelelahan mental, di mana subjek secara
tragis menjadi majikan sekaligus budak bagi dirinya sendiri.
[6] Ursula
K. Le Guin, "National Book Foundation Medal Acceptance Speech," dalam
Words Are My Matter: Writings About Life and Books, 2000–2016
(Easthampton: Small Beer Press, 2016), 113
[7] H.B.
Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, Jilid I
(Jakarta: Gunung Agung, 1967). Jassin secara konsisten memosisikan kritik
sastra tidak sebagai kerja mekanis penjaga tata bahasa, melainkan sebagai
empati intelektual untuk berdialog dengan 'jiwa' dan keaslian eksistensial
pengarang yang berdenyut di dalam karyanya.
[8] Budi
Darma, Harmonium (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995). Dalam berbagai
esainya, Budi Darma menegaskan bahwa sastra yang kuat tidak lahir dari
permukaan kehidupan yang artifisial, melainkan berfungsi sebagai instrumen
psikologis untuk membongkar anomali, obsesi, dan lorong-lorong tergelap dari
jiwa manusia yang sering kali disembunyikan oleh etalase sosial
[9] Italo
Calvino, Six Memos for the Next Millennium (Cambridge: Harvard
University Press, 1988), 1-3. Buku ini adalah
manifesto Calvino untuk membela masa depan sastra menjelang abad ke-21. Ia
meyakini bahwa sastra memiliki kapasitas bawaan yang sangat spesifik—dalam
menangkap nuansa, ambiguitas, dan bobot pengalaman manusia—yang secara absolut
tidak akan pernah sanggup direplikasi oleh medium teknologi sepesat apa pun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar